Profil KPH | K P H P | REGIONAL 4 | Maluku | KPHP Wae Sapalewa

Publikasi KPH

By A Web Design

Iklan
Iklan
Iklan

ADMIN KPH

Iklan

SURVEI PENGGUNA

SURVEI PENGGUNA
 

PROFIL KPHP MODEL WAE SAPALEWA (PROVINSI MALUKU)

I. ASPEK WILAYAH  :

I.1 Penetapan Wilayah KPH dan KPHP tingkat Provinsi Maluku

Penetapan wilayah KPHL dan KPHP Provinsi Maluku oleh Menteri Kehutanan melaui SK Menteri Kehutanan Nomor SK.66/Menhut-II/2010 tanggal 28 Januari 2010 meliputi area dengan luas ± 2.207.864 ha terdiri dari 17 unit KPHP dan 5 unit KPHL.

I.2 Penetapan wilayah KPHP Model Wae Sapalewa:

KPHP Model Wae Sapalewa di Kabupaten Maluku Tengah ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan Nomor SK.336/Menhut-II/2010 tanggal 25 Mei 2010 dengan luas ± 67.057 ha terdiri dari Hutan Lindung dengan luas ± 4.545 ha, Hutan Produksi Terbatas dengan luas   ± 27.903 ha dan Hutan Produksi Tetap dengan luas ± 34.609 ha.

PETA KPHP MODEL WAE SAPALEWA & FUNGSI KAWASAN HUTAN
BERDASARKAN SK PEMBENTUKAN MENHUT NO.SK.336/MENHUT-II/2010
TANGGAL 25 MEI 2010

 

I.3 Kondisi batas kawasan hutan

Letak geografis      :

129° 10' 15" - 129° 31' 47" BT

2° 47' 39" - 3° 4' 38" LS

Batas-batas           :

Utara       :      HPK Kab. Maluku Tengah

Timur      :      HPK Kab. Maluku Tengah

Selatan    :      HPK Kab. Maluku Tengah

Barat       :      HPK Kab. Maluku Tengah

 

I.4 Kondisi Penutupan Lahan

No

Penutupan Lahan

Luas ± (ha)

1

Hutan Lahan kering Primer

1.070,05

2

Hutan Lahan Kering Sekunder

60.637,77

3

Hutan Rawa Primer

788,30

4

Hutan Rawa Sekunder

409,24

5

Pemukiman

10,51

6

Pertanian Lahan Kering

367,18

7

Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak

1.214,69

8

Savana

40,13

9

Semak/Belukar

2.434,74

10

Tambak

84,45

 

 

67.057,06

 



Sumber: Citra Landsat tahun 2009

KPHP Model Model Wae Sapalewa akan dilaksanakan kegiatan tata batas sepanjang 45 km oleh BPKH wilayah IX Ambon pada tahun anggaran 2011 ini.

I.5 Kondisi Geofisik Wilayah KPH

a. Topografi

Topografi kelompok hutan Wae Sapalewa berada pada ketinggian 25 – 750 m dpl. Berdasarkan Sumber Peta Rupa Bumi Indonesia kondisi topografi hutan Wae Sapalewa yaitu landai dan agak curam.

b. Jenis Tanah

Berdasarkan Sumber Peta Land System and Land Suitability Tanah-tanah yang terdapat di areal KPH Model adalah gieisol distrik, alluvial gleik, kambisol eutrik, podsolik kromik, dan rensina. Tanah-tanah ini tergolong dalam tanah muda sampai tanah tua berdasarkan tingkat perkembangannya. Tanah muda adalah alluvial, tanah sementara berkembang adalah gieisol, kambisol dan rensina, sedangkan tanah tua adalah podsolik.

I.6  Kondisi Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan

Di dalam kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Model Wae Sapalewa  terdapat IUPHHK HA PT. Talisan Mas seluas ± 56.258 ha, akan tetapi di lapangan sudah tidak ada kegiatan. Sehingga sisa kawasan yang bisa dikelola ±67.057 ha

 

IJIN PEMANFAATAN & PENGGUNAAN DALAM KPHP MODEL WAE SAPALEWA

 

 

 

II. ASPEK KELEMBAGAAN

Kelembagaan yang ada pada tiap desa meliputi lembaga formal dan lembaga informal. Lembaga formal yang ada pada tiap desa adalah Kepala Desa berserta perangkatnya yang paling aktif dalam pengelolaan masyarakat desa, disamping itu ada juga Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tetapi belum aktif dalam pengelolaan desa karena berbagai keterbatasan terutama belum jelasnya pembagian peran dan tanggung jawab dalam pelaksanaan tugas. Lembaga informasi yang cukup aktif adalah Lembaga Adat yang diwakili oleh Ketua Adat pada setiap dusun, fungsi utamanya terutama menyangkut penyelesaian persengketaan/perselisfhan antar warga sehari-hari sertia menyangkut adat istiadat yang berkaitan dengan upacara adat. Di samping itu ada PKK dan Karang Taruna yang aktifitasnya timbui tenggelam serta organisasi olah raga dan kesenian.

III. ASPEK RENCANA dan AKTIVITAS/KEGIATAN PENGELOLAAN HUTAN

III.1 Tata Hutan

III.1.1 Citra Satelit– Belum ada

III.1.2 Inventarisasi desk analisis– Belum ada

III.1.3 Inventarisasi Sosekbud

a. Jumlah Penduduk

Terdapat wiiayah 3 (tiga) desa yang sebagian atau seluruhnya berada di alam kawasan hutan Wae Sapalewa, masing-masing: Desa Roho, Desa Kanike, Desa dan Hoaulu. Kawasan pemukiman dalam setiap desa letaknya terpencar berupa perkampungan dan dusun terpisah, perkampungan pada umumnya terletak di tepi pantai, sungai dan pinggir jalan dengan topografi datar sampai bergelombang.

Berdasarkan administrasi wilayah, kelompok hutan Wae Sapalewa terletak di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Kecamatan Seram Utara memiliki luas sekitar 8.345,78 km2 dan tersebar pada 38 desa (32 desa swakarya dan 6 swasembada), dengan jumlah penduduk 45.782 jiwa terdiri atas 173.923 jiwa laki-laki dan 170.051 jiwa perempuan. Penyebaran penduduk di wilayah desa ini belum merata dan sebagian besar penduduk berada di desa Wahai (ibukota kecamatan). Jumlah rumah tangga di kecamatan ini sebanyak 9.824 KK. Dengan luasan wilayah sebesar 8.345,78 km2, maka kepadatan penduduk di wilayah Kecamatan Seram Utara rata-rata 5,48 jiwa/km2 dengan tanggungan ratarata 5 jiwa/KK.

b. Pendidikan

Pendidikan memegang peranan penting bagi keberhasiian pembangunan. Pendidikan di Kabupaten Maluku Tengah sudah tersedia, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai dengan Tingkat Perguruan Tinggi.

c. Mata Pencaharian dan Tingkat Pendapatan Penduduk

Sungai merupakan sumber kehidupan sebagian kawasan pemukiman, baik sebagai sumber air bersih maupun MCK. Perjalanan antar desa dapat dilalui juga melalui laut. Pada beberapa sangat sulit dijangkau karena memiliki topografi yang agak curam. Umumnya hasil panen yang dipasarkan adalah tanaman perkebunan dan buahan, sebagian tanaman pangan, palawija dan sayuran. Jika petani menjual ke pedagang pengumpul yang datang ke desa maka penentuan harga jual sebagian besar ditentukan oieh pedagang, mengingat biaya pemasaran ditanggung pedagang. Namun masyarakat merasa senang karena ada pedagang pengumpul yang datang ke desa untuk membeli hasil panen, sekalipun dengan harga yang rendah. Masyarakat di daerah kajian berpikir bahwa mereka tidak perlu untuk membawa hasil panen dari desa sampai ke pasar lagi karena ada yang mempermudah transaksi jual beli. Masyarakat akan ke pasar dengan hasil panen mereka, apabila ada kebutuhan lain yang harus dibelanjakan.

Gambaran tentang jenis mata pencaharian penduduk di daerah kajian menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk masih terlibat dalam pekerjaan di sektor pertanian. Keteriibatan ini dapat dilihat dan aktivitas keseharian dan ungkapan fisik sebagian besar wilayah pedesaan yang berkaitan dengan lingkungan pertanian. Pekerjaan sebagai petani ini umumnya merupakan warisan turun temurun dan dikelola secara tradisional.  Jumlah penduduk yang bekerja sebagai petani lebih banyak karena pertanian sebagai mata pencaharian utama bagi penduduk setempat. Lahan yang diusahakan seluas 2 - 3 ha, dengan jenis tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman pangan dan palawija seperti pisang, keladi, ubi jalar, ubi kayu dan kacang tanah, selain itu petani juga mengusahakan

tanaman sayuran Pendapatan sebagai salah satu faktor yang berhubungan dengan kegiatan seseorang dalam berusahatani. Pendapatan yang dihitung adalah seluruh pendapatan petani yang diperoleh dan semua cabang usaha yang dikerjakan petani di daerah kajian. Desa Besi dan Sawai mempunyai tingkat pendapatan dari usahatani dan pendapatan lain yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan, pusat perekonomian sering berlangsung pada desadesa ini. Masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan transaksi jual beli hasil panen di daerah ini, selain itu juga sarana transportasi lancar, sehingga lebih memudahkan untuk arus keluar masuk sistem perekonomian berjalan secara kontinue.

III.2 Alokasi Dana Bantuan Pembangunan/Operasional

Tahun 2011

  1. Sosialisasi pembangunan KPH dialokasikan dana Rp. 137.800.000 pada Dinas Kehutanan dan terealisasi sebesar Rp. 100.515.000
  2. Pembangunan KPH dialokasikan dana Rp. 48.800.000 pada BPKH Wilayah IX Manado dan telah terealisasi Rp. 46.800.000